Oleh: kajianmuslimah | 7 Desember 2007

Kisah Si Penebang Pohon

Pemateri : Ibu Ata

Tanggal : 6 Desember 2007

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Istirahat bukan berarti berhenti , Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

——–

Akhwatifillah yang dirahmati Allah, insyaAllah kisah di atas saya yakin pasti ada yang sudah pernah membacanya ya. Sekarang dalam kasus kita sebagai seorang muslimah dengan berbagai aktifitas kita masing-masing, aktifitas kerja, aktifitas kerumahtanggaan, aktifitas dakwah, aktifitas sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya, entunya kita pun perlu terus mengasah kapak, agar terus tajam, Bagaimana caranya akhwatifillah?

1. Terus Memperbaiki kualitas Ruhiyah kita.

Sebagaimana kita pahami bersama, bawasannya ruhiyah kita bisa juga terkena krisis, hal ini berkaitan dengan kondisi keimanan kita yang fluktuatif, kadang naik dan kadang turun atau futur.

Barangkali bisa kita coba kenali tanda-tanda krisis ruhiyah diantaranya :

a. tidak ada dampak dari ayat-ayat Al Quran yang dibaca.

b. Tidak peka terhadap peringatan-peringatan kematian (QS. Al Ankabut:57).

c. Semakin tambah gandrung dengan faktor-faktor kesenangan dunia (QS. 57: 20).

d. Muncul kemalasan dalam melakukan amal-amal kebaikan.

e. Lupa kepada Allah swt (QS.59:19).

Cara supaya tidak terkena krisis ruhiyah :

a. menjaga kontinuitas dzikir kepada Allah swt.

b. Merenungkan kehidupan akherat

c. Selalu mengingat bahwa kematian adalah sesuatu yang dekat dengan kita.

Ada yang mengatakan semua berawal dari ruhiyah, segala aktifitas kita sehari-hari, di rumah, di tempat kerja atau pun aktifitas dakwah, jika dibarengi dengan ruhiyah yang baik maka aktifitas yang kita lakukan tersebut ada ”ruh”-nya. ada bobotnya atau ada nilai lebihnya, tidak semata-mata sekedar rutinitas biasa yang terus bergulir tanpa arah dan tujuan, hingga bisa dipastikan kita akan bertemu dengan titik jenuh. Selain itu kekuatan ruhiyah ini juga yang akan memperlancar segala aktifitas kita yang diniatkan lillahi ta`ala atau ikhlas semata-mata karena Allah. Atau bisa diistilahkan kekuatan ruhiyah ini bisa menjadi motor bagi kita dalam menjalankan segala aktifitas kita.

Apalagi ya yang perlu diasah akhwatifillah?

2. Terus Menambah Wawasan dan Pengetahuan kita.

Hal ini tentu menjadi sangat penting, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas kita seperti kerumahtanggan, pendidikan anak, keislaman dan lain sebagainya. Dengan wawasan yang luas maka cara pandang dan berfikir kita pun akan menjadi luas, tidak sempit atau ada sebuah istilah seperti katak dalam tempurung. Sebagai seorang muslimah yang dinamis maka wawasan dan pengetahuan yang luas tentang segala hal akan membuka cakrawala berfikir kita.

Terkadang saya pribadi di saat penat dengan membaca-baca berita, artikel, cerpen atau tulisan-tulisan bisa menjadi sebuah refresing tersendiri, apalagi di Jepang akses internet mudah tetapi sulit untuk mendapatkan kajian2, seminar2, buku2, majalah2 secara langsung sebagaimana di Indonesia. Intinya kita bisa mengunakan fasilitas yang ada sesuai situasi dan kondisi masing-masing.

So akhwatifillah jika ada waktu luang selain kita isi dengan dzikrullah bisa juga kita isi dengan “membaca” atau menambah wawasan kita.

Masih ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya.

3. Terus Meningkatkan Sisi Manajerial kita.

Sisi Manajerial ini yang terkadang sering kita lupakan, muslimah dengan berbagai aktifitas agar seluruh aktifiasnya dapat dijalankan dengan baik maka perlu sebuah management yang baik dan teratur. Terkadang ketika seorang muslimah telah berkeluarga dan punya anak maka aktifitas dakwah atau sosial kemasyarakatannya kurang atau menurun dengan alasan sudah sibuk di rumah. Atau sebaliknya terkadang di saat pekerjaan kerumahtanggaan terbengkalai makan amanah dakwah menjadi kambing hitam.

Padahal kalau kita mau jujur kenapa hal tersebut bia terjadi, salah satunya adalah karena faktor management kita yang amburadul atau kacau balau. Menunda-nunda pekerjaan dan mengerjakan sesuatu kalau sudah mendekati date line salah satu parameter manajerial yang kurang baik.

Barangkali dengan kita menyusun jadwal rutin harian kita secara garis besar saja misalnya akan memudahkan dalam pengaturan waktu-waktu kita selain juga menyusun tangga prioritas.


InsyaAllah demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan ini, wa Allahu a`lam bishowab

Diskusi :

Ocha : itu tadi mentok dengan rutinitas ya ummu? ya gimana caranya biar cara mengasahnya ga bikin bosen?

Ummu faiz: jika kita pahami kembali kisah penebang kayi di atas, kita lihat bahwa mengasah kapak bagi seorang penebang kayu itu menjadi sesuatu yang urgent . maka tentunya sebagai seorang muslimah yang aktif dan dinamis juga perlu memperhatikan tentang pentingnya mengasah ruhiyah, mengasah wawasan dan pengetahuan dan mengasah sisi manajerialnya.

jika kita sudah menyadari arti pentingnya so bisa kita sediakan waktu buat hal tersebut…duuuh terlebih tentang ruhiyah ini ya akhwatifillah jangan sampai kita beraktifitas tanpa “ruh”.

Saya pikir ketiga hal tadi tidak akan bikin bosen walau kita sering2 melakukannya/mengasahnya karena akan memberikan kontribusi positif buat diri kita sendiri, silahkan dicoba bersama, saya juga!

nayla firdaus: kalo utk urusan dunia (kerja, ngurus anak, dzb) kita bisa atur waktunya, berarti utk mengasah ruhiyah juga harus bisa ngatur jadwalnya juga ya mbak?

Ummu faiz: Saya pikir ketiga hal tadi tidak akan bikin bosen walau kita sering2 melakukannya/mengasahnya karena akan memberikan kontribusi positif buat diri kita sendiri, silahkan dicoba bersama, saya juga!

= kiki amelia =: kadang kan hasrat untuk melakukan sesuatu itu naik turun ukhti…kadang semangat kadang kendur..nah kalo pas kendur gimana?

nayla firdaus: kalo kendur ya disemangatin lg, dg mengasah ruhiyah

= kiki amelia =: kalo yg kendur mengasah ruhiyahnya?

diyah: iy tul klo keluar kendurnya Astaghfirullah ….

nayla firdaus: ke mesjid, cari komunitas yg mendukung

Ummu faiz: waduh gawat ya mba qq

Ummu faiz: ya kalo sudah kendur so yang terjadi aktifitas yang kita lakukan terasa hampa begitu khan ya ukhti?

= kiki amelia =: kalo wanita biasanya saat menstruasi futur meningkat

diyah: hrs byk istighfar kali ya

Ummu faiz: maka lekas-lekaslah kita menyadari kalau ruhiyah kita sedang krisis

nayla firdaus: makanya biar gak hambar, jangan sampe kendur. bener ga?

Ummu faiz: ada loh yang ngga nyadar, kalau ngga nyadar maka ya teruslah berjalan tanpa ada usaha untuk meningkatkan kualitas ruhiyah nah menyadari itu satu titik awal untuk bergerak. Bergerak untuk menhambur kedalam pelukan-Nya, merindukan saat-saat indah ketika kita menjadi kekasih-Nya.

diyah: klo soal menyadari biasanya ada hub. hidayah. tul nggak sih mb ata?

= kiki amelia =: wallahu’alam mbak diyah…yang pasti beruntunglah orang orang yang sadar ketika futur melanda

Ummu faiz: Iya bisa juga mba diyah selain juga faktor kepekaan diri kita

Ocha: imannya suka naik turun .. labil banget

nayla firdaus: pernah denger, katanya kalo kita menjustifikasi diri kita seperti itu, maka kondisi itu akan terus bertahan dalam diri kita

Ummu faiz: Ada yang mengatakan ketika iman sedang naik maka perbanyaklah melakukan amalan2 kebaikan, disaat turun maka jangan sampai kita tinggalkan yang wajib. Tetapi yang paling baik adalah melakukan ibadah yang kontinu

Ocha: jadi kita harus merasa “diatas” terus begitu? untuk memotivasi diri?

Ummu faiz: Tetapi yang terbaik adalah melakukan amal ibadah secara kontinu walaupun sedikit kuantitasnya tapi terus berkualitas.

= kiki amelia =: lingkungan juga mungkin mendukung ya, perbanyak teman teman yg shalih aja

nayla firdaus: utk memotivasi diri, jangan pernah mengatakan diri kita buruk, keimanan labil, dsb. sebaliknya, kita harus yakin kalo bisa berubah.

Diyah: bgmn klo ternyata lingkungan yg kita berada ditu 80 % ternyata komunitasnya suka menggunjing?

= kiki amelia =: untuk wanita kan ada istilah baiti janati ukh jadi lebih baik kita di rumah saja kalo sekiranya tidak bisa menghindari pergunjingan

nayla firdaus: 80% suka mengunjing, jangan biarkan kita ikut kesitu. kan masih ada 20% yg gak menggunjing?

Ummu faiz: masyaAlllah mba diyah, soal ghibah itu walau kita hanya dengerin tapi dosanya sama jadi kalau bisa berusaha dialihkan pembicaraannya.atau bisa juga disampaikan tentang bahaya ghibah ini kepada teman2nya

Ocha: ** Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, hasil kerjamu sungguh luar biasa! ** satu lagi pelajaran yg dipetik .. pujian bisa bikin jatuh ya?

Ummu faiz: Pujian yang tepat adalah sesuatu yang baik untuk kita kerjakan, jangan kikir pujian jangan kikir memberikan pujian kepada seseorang yang memang layak untuk dipuji, pujian yang berlebihan atau diberikan tidak tepat itu hal yang tidak baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: