Oleh: kajianmuslimah | 12 November 2007

Cinta

Pemateri: Ibu Ata
Tanggal: 12 November 2007

MATERI

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta, dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta adalah perasaan hati merupakan sesuatu yang abstrak dan sulit dikonkretkan. Kita mencintai sesuatu karena kita memang mencintainya. Kalau mencintai seseorang karena alasan yang konkret itu berarti dia tidak mencintainya, karena bila hal-hal konkret itu hilang maka cintanya pun hilang.

Ketika saya pulang ke Indonesia setahun yang lalu dan menyalakan televisi, mendapati tampilan sinetron-sinetron bertemakan cinta bertebaran dimana-mana, baik yang dikemas versi pop, dangdut dan bombay. Perasaan pemirsa dibawa oleh alur cerita, terlebih lagi pemikiran pemirsa pun terbawa memaknai cinta secara dangkal dan dangdut. Dalam benak saya, mau jadi apa generasi muda kita jika dijejali dengan tontonan seperti itu. Tentu saja bisa dibayangkan mengapa sampai ada gadis sekolahan yang bunuh diri karena diputus cinta oleh pacarnya. MasyaAllah!

Konsep Cinta dalam Islam

Bagaimana Islam memandang persoalan cinta ini? Perasaan cinta merupakan anugerah dari Allah swt yang diberikan kepada seseorang. Cinta bagi seorang muslim/muslimah yang taat adalah sesuatu yang tidak perlu untuk mengusahakan dan menolaknya. Persoalannya adalah kapan rasa cinta itu tumbuh? Yaitu sampai seberapa jauh dia mencintai Allah swt.
Kalau dia mencintai Allah maka Allah menganugerahkan rasa cinta padanya terhadap seseorang yang juga dicintai Allah swt. Barang siapa yang mencintai Allah maka dia dapat diberi anugerah Allah rasa cinta pada seseorang walaupun dia belum lama mengenalnya.

Kita tidak dapat menolak rasa cinta itu tetapi harus diingat bahwa nafsu akan selalu menggoda kita. Sehingga cinta itu dikaitan dengan dua unsur: unsur nafsu dan unsur rabbani. Tidak perlu mengorek-orek hal-hal yang bersifat fisik dalam mencintai seseorang. Cinta kita kepada seseorang merupakan refleksi dari penjiwaan cinta kita kepada Allah swt. Yang menentukan bahwa cinta kita itu merupakan refleksi dari cinta Allah adalah sejauh mana penjiwaan cinta kita kepada Allah SWT.

Sekarang, bagaimana penjiwaan cinta kita kepada Allah SWT? Sudahkah kita menjiwainya? Sudahkah kita menjadi kekasih-Nya?

Keberhasilan dakwah adalah karena mereka mempunyai prinsip yang sama yaitu pertama-tama menerapkan rasa cinta kepada Allah SWT dan cinta terhadap seseorang merupakan refleksi cinta dari Allah SWT. Barangsiapa yang mencintai seseorang yang dicintai Allah, maka dia akan mencintai apa-apa yang dicintai Allah swt. Barangsiapa yang mencintai apa-apa yang dicintai Allah maka tidak ada rasa bangga (GR) terhadap dirinya dan tidak mengekspresikan rasa senang dengan pujian-pujian orang lain, sikapnya akan biasa-biasa saja, meskipun dia sudah banyak dikenal orang dalam berdakwah misalnya. Barangsiapa yang mencintai Allah maka dia tidak pernah merasa takut dan tidak pernah merasa cemas. Menjadi kekasih Allah, dia mencintai Allah dan Allah mencintainya, maka dia akan bahagia dalam hidupnya.
Bahagia merupakan perasaan, tidak dapat dihubungkan dengan hal-hal yang konkret. Kebahagian seorang muslim adalah dengan hanya mencintai Allah SWT.

Sabda Rasulullah SAW: Ada tiga kemestian orang yang mencintai Allah SWT yaitu:

  1. Lebih memilih ucapan kekasihnya daripada ucapan-ucapan selain kekasihnya.
  2. Dia lebih memilih firman-firman Allah swt dalam Al Quran. Dalam mendengar, bila ada dua suara yang terdengar maka dia dapat menutup telinganya terhadap suara-suara selain firman Allah SWT, ada filter. Lebih bisa mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran. Dalam membaca, dia lebih memilih membaca ayat-ayat suci Al Quran. Jika dihadapkan pada dua pilihan ada filter dalam dirinya dan lebih memilih qalam dari Allah SWT.

  3. Lebih memilih bergaul (memuja rasa), bersatu majelis dengan kekasihnya.
  4. Lebih memilih memuja rasa kepada Allah SWT dengan berdzikir dan membaca Al Quran. Rasa cinta yang utuh kepada Allah SWT maka dia tidak akan betah berlama-lama di majelis yang di sana tidak diagungkan nama Allah SWT. Seorang muslim dalam kesehariannya tidak lepas dari memuja rasa kepada Allah SWT, kapan saja dan di mana saja, tidak pernah lupa kepada Allah SWT. Ke mana pun dia pergi, Allah selalu menyertainya. Inilah hakekat tauhid.

  5. Memilih keridhoan kekasihnya ketimbang pada keridhoan selain kekasihnya.
  6. Dia lebih memilih keridhoan Allah SWT. Di sini komitmen cinta kita kepada Allah diuji. Seorang muslim yang teguh pendiriannya maka dia akan memilih keridhoan Allah SWT.
    Bila ada orang yang membenci kita karena keridhoan kita kepada Allah SWT maka pasti orang-orang itu membenci Allah atau seseorang yang mencintai Allah dalam tingkatan rendah.

Dalam sebuah dialog, suami berkata kepada saya, jangan pernah menuntut cinta kepada pasangan kita, karena cinta yang kita terima itu sebanding dengan yang telah kita berikan, oleh sebab itu bertanyalah kepada diri sendiri seberapa besar cinta yang telah kita berikan kepada pasangan kita. Dalam hubungan kita dengan Allah SWT, terkadang di saat kita mendapatkan ujian atau musibah, kita mempertanyakan kepada Allah SWT, mengapa Allah memberikan cobaan seperti ini, mengapa Allah tidak sayang kepada saya. Tidakkah kita mulai belajar bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita benar-benar mencintai Allah SWT. Marilah kita coba bersama-sama menginstropeksi diri kita, bagaimanakah penjiwaan cinta kita kepada Allah SWT? Dengan demikian insyaAllah kita lebih bisa menata perasaan kita, rasa cinta dan benci kepada makhluknya tetap pada koridor-Nya.

Selamat mencinta!

InsyaAllah demikian sedikit yang bisa saya sampaikan, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi.

———————————————————————–

DISKUSI

Ifa: sy ifa..anak sy 2, yg kecil 2,5 thn..sy tuh kadang kalo menghadapi anak yang ‘banyak maunya’ suka agak kesel
Ifa: terutama pas kalo kita lagi sholat or ngaji di rmh…kaya nya kok ada…aja maunya anak2 pas kita lg berusaha mendekatkan diri kepada NYA
Ifa: walaupun kadang sy niatkan…kalo sy ‘pegang’ anak sy ini untuk ibadah kpd NYA…
Ifa: tp..gmn yaa…

Ibu Ata: mba-mba yang di sini ada yang mau berbagi ngga nich? sehubungan dengan yang dialami mba Ifa
Ibu Ata: Pertanyaannya bagus sekali tapi susah jawabnya
Ibu Ata: Mba Ifa, saya pikir hal tersebut banyak dialami juga dengan ibu2 yang lain ya, saya juga pernah mengalami dan merasakannya.
Ibu Ata: Pertama hal tersebut bisa jadi ujian cinta dan kesabaran kita.
Ifa: yup betul skali…
Ibu Ata: Kedua cobalah kita tengok diri kita, disaat anak2 terlelap misalnya, apakah kita sudah memaksimalkannya untuk beribadah kapadaNya?
Ifa: sholat fardlu..
Ifa: ya…terima kasih atas peringatan…terhadap jatah ‘prime time’ yg selama ini sering terlupakan sama sy…
Ibu Ata: InsyaAllah kita sudah bisa membaca ritme dalam kehidupan kita sehari2 ya mba, atau cobalah kita perhatikan baik-baik,
Ibu Ata: tentunya dalam rentang waktu saat kita melaksanakan sholat fardlu misalnya pastilah ada waktu “tenang” yang bisa kita gunakan.
Ifa: ok
Ibu Ata: Ketiga apakah kita sudah mempersiakan baik-baik semuanya, misalkan ketika akan ada pengajian, sudah terpenuhikah hal-hak anak2 kita?
Ibu Ata: mempersiapkan
Ibu Ata: Keempat selebihnya adalah persiapan maknawiyah kita disaat kita akan memulai hari-hari kita, salah satunya dengan amalan2 sunnah kita.
Ibu Ata: InsyaAllah amalan2 sunnah yang bisa kita lakukan dengan khusuk di saat yang “tenang” bisa menutupi amalan wajib yang “terganggu” buah hati kita, insyaAllah.
Ifa: iya yah…
Ibu Ata: Mba Ifa sayang, insyaAllah demikian yang bisa saya sampaikan nich, pengalaman pribadi insyaAllah ketika keempat hal itu bisa kita tunaikan dengan baik,
Ifa: makasih banyak mba ata…insya Allah…sangat ‘mencambuk’ sy…untuk reload…amalan2 sunnah…
Ibu Ata: insyaAllah Allah akan memudahkan urusan kita, insyaAllah…
Ibu Ata: selepasnya ya kita pasrahkan kepada Allah, kalau memang masih “rewel” berarti kita mesti sabar dengan ujian anak2 ini, insyaAllah banyak hikmahnya koq mba.
Ifa: iya…
Ibu Ata: sama-sama mba Ifa.
Ifa: bahkan kadang sy juga merasa kalo kondisi kita sedang ‘kacau’, apalagi kalo sedang tidak sholat..anak2 teh suka lebih ‘rewel’…so kita nya malah suka ‘lepas kontrol’…
Ifa: yang biasanya berusaha tidak membentak ini keluar bentakan…Astaghfirullaah…
Ibu Ata: Kalau memang sudah lepas kontrol, perbanyak istighfar, dan jangan lupa minta ma`af kepada anak2 kita, dan berikan perhatian lebih selepasnya.

Aida: Ini Mbak masalah management hati sebenarnya yg masih ada kaitannya dengan Cinta , kadang secara tidak sadar kita mencintai sesuatu dari lebih dari Allah , misalnya , gimana kiat jitu nya supaya kita mencintai Allah di atas segala galanya

Ibu Ata: wah lagi-lagi pertanyaan dengan jawaban yang sulit nich
Ibu Ata: ada yang bisa bantu saya?
Aida: Iya Mbak kadang kadang samar banged / tipis banged atao bahkan nyata kalo kita lebih mencintai sesuatu, Sedikit aja hati meleng , kondisi itu mudah sekali terjadi
Ibu Ata: Mba Aiman yang sholihat.
Ibu Ata: InsyaAllah 3 point dari sabda Rasulullah saw di atas bisa dijadikan sebagi parameter dalam diri kita masing-masing.
Ibu Ata: Kemudian coba kita cek lagi, apakah sesuatu itu masih dalam kerangka cinta kita kepada Allah, mencintai karena Allah.
Ibu Ata: Sebenarnya kasus mba Aiman ini rada abstrak nich.
Ibu Ata: Apakah bisa dikonkritkan mba, sesuatu di sini kepada siapa?
Ibu Ata: Kalau kiat jitu supaya kita bisa mencintai Allah swt di atas segala-galanya,
Aida: mmm… Sabda Rasul tentang kemestian orang yg mencintai Allah merupakan kita yg jitu bagi masalah Tadi yaa
Aida: misalnya cinta yg berlebihan terhadap anak atau suami atau barang
Aida: atau manusia
Ibu Ata: maka cobalah kita menjadikan diri kita sebagai kekasih-Nya, dengan mengacu pada sabda rasulullah saw tadi.
Aida: tanpa sadar kadang ketika menghadap atasan kita di tunutut untu tampil rapi tapi ketika kita sholat kadang kerapihan kurang di perhatikan
Ibu Ata: Kemudian….hmmm…ini dia….mengenai tajjarud : atau berlebih-lebihan ya…
Ibu Ata: Ketika kita mencintai seseorang masih dalam kerangka cinta kita kepada Allah swt semisal cinta kita kepada suami kita, anak2 kita, saudara seiman kita misalnya, maka jangan berlebih-lebihan ya….
Ibu Ata: berlebih-lebihan di sini misalnya, kita tetap menomer satukan cinta kita kepada Allah swt, jika ada dua panggilan yang sama-sama harus kita tunaikan pada waktu itu dan tidak bisa ditunda-tunda lagi, maka kita harus mendahulukan panggilan-Nya.
Aida: bukannya kalo hal atau kasus seperti ketika menghadap atasan dengan ketika Kita sholat menunjukan bahwa secara tidak sadar kita tidak mencintai Allah di atas segala galanya karena kita lebih malu tidak rapi ketika berhadapan dengan atasan dibanding dengan rasa tidak rapi ketika berhadapan dengan Allah
Aida: ato mengenai rasa malu kadang kita lebih malu terhadap manusia dari pada kepada Allah
Aida: aduh Mbak … dah masuk maghrib di sana yaa
Ibu Ata: Berarti mba Aiman sudah bisa instrospeksi tuch ya….
Ibu Ata: iya nich sudah gelisah
Aida: aku jadi menghalangi Mbak untuk mendahulukan panggilan Allah , Tafadol Mbak
Aida: afwannnnn banged
Aida: Tafadol Mbak …maghrib
Aida: afwaannnn
Ibu Ata: kalo boleh saya lanjutkan japri ya mba, masih pengen ngejabarin lagi sebenarnya.
Aida: Jazakillah untuk Nasehatnya dan masukannya hari ini
Aida: gag apa apa Mbak ….
Aida: Japri juga , dengan senang hati
Ibu Ata: Waiyyaki mba Aiman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: