Oleh: kajianmuslimah | 5 November 2007

JA’IM

Pemateri: Ibu Vivi
Tanggal: 5 November 2007

 

MATERI

 

Ah, males ngobrol sama dia..orangnya jaim” celetuk seorang teman, ketika saya menanyakan kesannya terhadap salah seorang teman baik saya.

 

Akhir-akhir ini saya sering kali mendengar kata-kata ja’im ini, atau kependekan dari ‘jaga imej’. Secara harfiah, kata jaga merupakan bentuk dasar dari kata menjaga, sedangkan kata imej berasal dari bahasa Inggris ‘image’ yang dalam kamus (oxford learner’s pocket dictionary) berarti kesan publik terhadap seseorang. Sedangkan dalam pergaulan sehari-hari kata ini berkonotasi negatif yang berarti, berusaha menjaga sikap, agar tingkah laku buruknya tidak nampak kepada publik. Kalau ini saja masih bagus, tetapi ada arti lebih jauh lagi, yaitu karena terlalu menjaga, maka perilakunya menjadi tidak natural, terkesan menutup diri dan menjengkelkan lawan bicara atau orang-orang di sekitarnya.

 

Sebenarnya, dalam interaksi sehari-hari yang wajar, dua orang individu semakin lama akan semakin mengenal satu sama lain. Saling mengetahui apa kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh temannya. Itu pun tergantung dari sejauh mana kerelaan kedua pihak untuk membuka diri dan membiarkan orang-orang luar masuk ke dalam wilayah pribadinya. Jadi intinya ‘keterbukaan’. Bila seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk terbuka, bisa jadi ia akan mempengaruhi lawan bicaranya untuk terbuka juga. Dengan catatan, lama dan intensitas interaksi antara dua individu juga berpengaruh terhadap keterbukaan ini.

 

Masalahnya, ternyata sulit menjadi pribadi yang terbuka. Karena hal ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana penerimaan diri yang dipengaruhi oleh self concept (kesadaran kita terhadap keunikan dan seluruh struktur kepribadian kita), self image (cara kita memandang diri kita sendiri) dan self esteem (harga diri kita). Kesemuanya ini terbentuk dari proses yang panjang, yang merupakan hasil dari pengalaman kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Teorinya, orang yang memiliki penerimaan diri yang tinggi, yang PeDenya tinggi, akan sangat terbuka dengan orang lain. Ia tidak malu mengakui ada banyak kelemahan yang dia miliki tanpa menutupi banyak juga sisi positif di dalam dirinya. Orang-ornag seperti ini akan mempengaruhi lawan bicaranya untuk terbuka juga terhadap dirinya. Karena orang-orang yang memiliki rasa PeDe yang tinggi ini merasa nyaman dengan dirinya, bisa menghargai dirinya dan juga bisa mengahargai orang lain ‘apa adanya’. Hal ini membuat orang lain merasa nyaman untuk terbuka bila bersamanya. Wilayah keterbukaan ini memang sangat krusial dalam membuat pergaulan kita menjadi harmonis.

 

Tidak semua orang bisa membuka diri dengan nyaman kepada orang lain. Ada banyak hal yang membuat seseorang seperti menjaga jarak atau wilayah pribadinya tertutup kepada orang lain. Diantaranya adalah pengalaman di masa kecil yang kurang diterima dan dihargai oleh lingkungan. Misalnya, bila seseorang anak kecil selalu dibilang “kamu bodoh” oleh orang tuanya, padahal ia sama sekali tidak bodoh, maka kata-kata ini akan membentuk konsep diri negatif, bahwa ia adalah orang yang bodoh. Pengalaman masa kecil ini akan terekam kuat dalam memori sang anak hingga ia dewasa. Meskipun demikian, tidak berarti hal ini tidak dapat diubah. Proses perbaikan pribadi yang terus menerus akan bisa menghapus konsep diri yang negatif ini, insya Allah.

 

Nah sekarang back to Ja’im. Kenapa sih ada orang yang ja’im? Analisa saya ada dua kemungkinan. Pertama, ia sengaja jaim karena tidak memahami pentingnya membuka diri secara jujur dan wajar kepada lawan bicaranya. Kedua, dia tidak sengaja jaim, tapi memang pribadinya tertutup, tidak mau membiarkan orang lain ‘membaca’ dirinya.

 

Untuk yang pertama, mudah-mudahan cara mengatasinya mudah. Kalau orang ini adalah orang yang matang,(memiliki konsep diri yang baik dan nilai-nilai Islam terinternalisasi dan teraplikasikan dengan baik dalam dirinya), tetapi berlaku ja’im hanya karena tuntutan peran yang disandangnya, maka perlu disadarkan bahwa seharusnya peran itu tidak membuat ia mengenyampingkan sisi-sisi manusiawi yang ada pada dirinya. Teringat kisah keluarga Rosululloh (di buku Isteri-isteri Rosulullah), bahwa kehidupan mereka sangat ‘biasa’ untuk kebanyakan orang. Misalnya saja, ternyata Isteri-isteri Rosulullah pernah juga bertengkar karena cemburu, atau pernah juga saling melemparkan tepung di antara para isterinya, dan Rosulullah pun ikut serta di dalamnya. Bahkan kalau kita lihat, di dalam rumah tangga Rosulullah pun pernah terjadi prahara, ketika para Isteri Nabi meminta tambahan harta yang sampai membuat Rosulullah mengurung diri selama satu bulan lamanya dan mendiamkan isteri-isterinya. Dan ini terabadikan di dalam Al-Qur’an yang agung, yang dibaca dan dihafal oleh jutaan orang di dunia ini. Tapi sisi-sisi manusiawi itu sangat tampak dan wajar dalam kehidupan mereka. (catatan: tentu saja ini juga bagian dari pelajaran bagi kita untuk mengatasi konflik dalam rumah tangga yang baik sesuai dengan ajaran Islam) Jadi Rosulullah dan keluarganya saja mencontohkan kepada kita untuk bersikap wajar dan terbuka, apa lagi kita, yang manusia biasa ini.

 

Untuk tipe yang kedua, perlu proses yang panjang untuk membuat ia bisa nyaman dengan dirinya dan bisa terbuka kepada orang lain. Untuk orang seperti ini, perlu diberi support yang terus menerus agar dia bisa mengeskplor kelebihan-kelebihan dirinya. Selain itu menanamkan nilai-nilai Islam yang benar dan membumi (seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah) juga penting sekali untuk dilakukan. Mungkin bila orang-orang yang tertutup ini dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan proses yang alami, peningkatan kualitas ruhiyyah, fikriyyah dan jasadiyyahnya berjalan dengan baik, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang menyenangkan dan terbuka kepada orang lain.

 

Nah sekarang ada lagi kasus, bagaimana kalau ada atasan atau pemimpin yang ja’im, sehingga ditakuti oleh anak buahnya?

 

Nah ini kembali ke kedua jawaban diatas. Perlu dicari tahu dulu penyebabnya, apakah ia benar-benar jaim karena kurang PeDe atau dia tidak sadar kalau dirinya jaim?. Yang terpenting adalah, ada hal-hal yang memang perlu ditutupi terkait dengan perannya sebagai atasan atau pemimpin. Tetapi jangan sampai hal ini menghalangi kemesraan ukhuwah dengan para staffnya.

 

Ijou desu…saya juga kepingin ah..jadi orang yang terbuka dan menyenangkan kepada orang lain….semoga tulisan ini menjadi inspirasi untuk perbaikan diri (terutama saya pribadi sih..)

 

Referensi utama :

C. Pearson, Judy.Interpersonal Communication. Scott, USA Foresman Company,1983

 

************************************************************

 

DISKUSI

Dini: sejauhmana jaim itu d p’bolehkn dlm Islam mba, maksudnya dlm hal apa kt d p’bolehkan jaim

Bu Vivi: jaim ini kalau dilihat dari asal katanya seperti yang dalam materi tadi, sebenarnya bagus ya
Bu Vivi: menjaga citra diri
Bu Vivi: ini penting nih, apa lagi kalau yang ingin terjun dalam dunia politik
Bu Vivi: di dalam islam pun sebenarnya ada aturan untuk tidak membuka aib diri kita sendiri kepada orang lain
Bu Vivi: tidak membuka dosa-dosa kecil, apa lagi besar yang sudah pernah kita lakukan kepada orang lain
Bu Vivi: karena dengan menjaga aib kita, kita bisa menutup pintu-pintu pengaruh buruk yang bisa kita sebarkan (meskipun tidak diniatkan ya..) dengan cara bercerita kepada orang lain
Bu Vivi: sampai sini ada syariatnya
Bu Vivi: tetapi, untuk hal-hal yang sifatnya manusiawi, misalnya kalau kita merasa tidak enak dengan perlakuan orang lain, ada baiknya kita bicara secara langsung, tidak berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita
Bu Vivi: ini kalau dalam psikologi ada istilah asertif (mengungkapkan ketidaksetujuan kita atas perilaku orang lain yang tidak kita setujui)Bu Vivi: selain itu juga kalau kita ingin membangun hubungan yang dalam dan menyenangkan dengan orang lain, mau tidak mau kita membuka diri kita
Diana: tp kadang ada rasa “ga enak” , sungkan, pakewuh ya mba..
Bu Vivi: tidka menutupi kelemahan2 kita yang memang sifatnya manusiawi
Bu Vivi: dan bisa dimaklumi oleh orang lain
Dini: berarti dlm hal ini jaim tdk d p’kenankan ya mba
Bu Vivi: insya Allah seperti itu batasannya mbak Dini, wallahu a’lam
Bu Vivi: kalau ingin menjalin hubungan yang mendalam ya…
Bu Vivi: mendalam itu misalnya menjadi sahabat dekat
Bu Vivi: atau ingin berteman secara menyenangkan dengan orang lain

Dini: kalo kaitannua jaim dgn yg ingin terjun dlm dunia politik?
Ocha: jaim ke dunia politik.. apa jadinya ga menutupi keburukan ?
Ocha: mm soalnya dunia politik itu terkadang begitu ya

Bu Vivi: sama juga sih, jaim dalam hal menutupi aib kita yg tidak perlu diketahui oleh orang lain
Bu Vivi: keburukan dan kekurangan beda ya
Diana: bedanya mba?
Bu Vivi: keburukan juga, keburukan yang membawa dampak yang luas dan merugikan banyak orang atau hanya keburukan untuk diri sendiri
Bu Vivi: kalau kekurangan, ini juga yang masih bisa diperbaiki dan kita berusaha memperbaikinya
Bu Vivi: dan juga kekurangan yang tidak mungkin diperbaiki karena sifat manusiawi kita
Bu Vivi: masih mau dilanjutin yang politik?
Bu Vivi: khawatirnya melenceng jadi membahas kelompok tertentu
Dini: tafadhol mba
Dini: pake perumpaan aja mba
Dini: perumpamaan…
Bu Vivi: keburukan yang membawa dampak luas, harus dibuka, agar masyarakat tahu dan berhati-hati bila berurusan dengan politisi/partai yang memiliki keburukan ini
Bu Vivi: misalnya korupsi
Bu Vivi: keburukan yang berdampak pribadi (bukan berhubungan dengan moral ya) mungkin masih bisa dielminir, misalnya..
Bu Vivi: memiliki hutang untuk suatu urusan
Bu Vivi: kalau dalam islam, berhutang ini bukan aib, kecuali kalau hutangnya karena utnuk berfoya-foya
Bu Vivi: kekurangan yang masih bisa diperbaiki, misalnya masalah kinerja karena kurang pengalaman
Bu Vivi: sedangkan yang tidak bisa diperbaiki misalnya..
Bu Vivi: (saya kesulitan untuk mencari contoh ini) ada yang punya ide?
Bu Vivi: misalnya yang membutuhkan proses panjang untuk memperbaikinya : sifat mudah lupa,
Bu Vivi: tidak pandai memasak atau tidak hobi mengerjakan pekerjaan rumah
Bu Vivi: sepertinya itu aja contoh dari saya, kalau ada yang mau menambahkan..silahkan

Diana: ada pendapat yg bilang gini teh..
Diana: klo ingin berubah, salah satu alternatif adalah pindah
Diana: krn ketika d rumah, dia sdh dikenal sbg anak yg gini, gini, yg jelek2 lah mba..
Diana: dan, salah satu cara utk mengubah image nya adalah pergi ke tempat lain
Diana: dan di tempat baru itu, dia mulai membangun image yang baru..
Diana: gmn mba?

Bu Vivi: hmm..bisa juga seperti itu
Bu Vivi: terkadang, kita perlu lingkungan baru yang lebih mendukung berkembangnya konsep diri kita ke arah yang lebih positif
Bu Vivi: kalau dalam suatu keluarga, orang tua tidak bisa memberikan dukungan untuk perkembangan diri kita
Bu Vivi: perlu juga kita “pindah”
Bu Vivi: pindah ini memiliki 2 arti:
Bu Vivi: yang pertama, benar-benar pindah, misalnya mondok
Bu Vivi: atau yang kedua, kita mencari lingkungan lain yang bisa memenuhi fungsi perkembangan jiwa kita kearah yang lebih positif
Bu Vivi: tapi tetap berinteraksi dengan keluarga kita
Bu Vivi: insya Allah, keluarga kita menjadi tantangan yang justeru bisa memicu perubahan diri kita
Bu Vivi: wallahu a’lam, kalau menurut saya seperti itu mbak Diana
Diana: ya
Diana: mgkn itu pula yg membuat dakwah di rumah sendiri jd lbh berat ya mba..
Bu Vivi: iya
Diana: krn orang rumah melihat kita
Diana: sbgmn melihat yg dulu
Diana: walaupun mgkn sdh sebisa mgkn berubah..
Bu Vivi: tapi insya Allah dengan tekad yang kuat, lambat laun mereka mengakui bahwa kita memang sudha berubah
Bu Vivi: prosesnya panjang, tapi insya Allah pahalanya pun besar mbak Diana
Diana: insya Allah..
Diana: masih tentang merubah image mba..
Diana: atau menjaga image..
Diana: klo kata Aa Gym, cara yg mudah adalah, dengan mencontoh
Diana: dan, sudah ada contohnya, yakni Rasulullah SAW
Diana: namun, ternyata, kita hanay sedikit sekali mengenal Rasulullah
Diana: nah, pertanyaannya, ada tips2 supaya kita bisa mengenal Rasulullah dg lbh baik, shg dpt meneladani beliau?
Bu Vivi: iya, benar mbak Diana
Bu Vivi: sering kali kita merasa sudah cukup mengenal rosulullah
Bu Vivi: dari sejarahnya beliau
Bu Vivi: padahal sebenarnya ada siroh yang membahas rosulullah sampai detil
Bu Vivi: sampai menjelaskan, cara jalannya rosulullah
Bu Vivi: ciri-ciri fisiknya
Bu Vivi: tingginya, sifat-sifat beliau
Bu Vivi: interaksi beliau kepada isterinya, sahabatnya, anak-anak kecil
Bu Vivi: akhlaknya kepada semua orang
Bu Vivi: sampai ibadah beliau yang kesemuanya begitu sempurna
Bu Vivi: sampai-sampai semua orang yang mengenalnya mencintai beliau
Bu Vivi: dan tidak rela Rosulullah tersakiti, dan membiarkan dirinya terbunuh karena kecintaannya kepada Rosulullah melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri
Diana: subhanallah..
Bu Vivi: hanya saja, shiroh semacam ini mungkin jarang dibaca oleh kita ya…
Diana: pengen bisa cinta seperti itu..
Bu Vivi: dan mungkin kurang menarik bila dibandingkan buku-buku lainnya
Bu Vivi: mungkin sesekali perlu juga dari kamus mengundang ustadz yang ahli shirohs emacam ini, agar kecintaan kita kepada rosulullahs emakin terbentuk
Bu Vivi: wallahu a’lam
Diana: ya mba, setuju..
Diana: pelajaran shiroh itu penting banget
Diana: cm ya itu tadi, kalah menarik ya?
Diana: kalah kemasan sebenarnya mah..
Diana: alhamdulillah, skrg di toko2 buku, mulai banyak buku2 bergambar dengan warna yang menarik tentang kisah2 dalam Quran
Bu Vivi: iya, terutama kalau yang menjelaskan bukan ahlinya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: