Oleh: kajianmuslimah | 24 Maret 2008

Hidayah Allah SWT

Pemateri: Ummu Faiz
Tanggal: 17 Maret 2008

  • Materi

Bismillahirrahmanir rahim

Hidayah Allah SWT

(sumber : Kuliah Aqidah Islam. Drs. Yunahar Ilyas, Lc.)

Kata Al Hidayah di dalam Al Quran mempunyai dua pengertian :

  1. Ad-dilalah wal-irsyad (menunjuki dan membimbing) misal dalam QS Fushshilat:17 :

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan”

2. Idkhalul iman ilal qalb (memasukkan iman ke dalam hati, atau menjadikan seseorang beriman). Misalnya firam Allah dalam QS Al Qashash : 56 :

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki- Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Hidayah dalam pengertian pertama bisa dilakukan oleh para Nabi, Rasul, Ulama, Mubaligh, Guru dan siapa saja yang mampu dan mau melakukannya. Tetapi hidayah dalam pengertian yang kedua hanyalah mutlak milik Allah SWT. Dalam surat An Nahl : 93 ditegaskan lagi oleh Allah SWT :

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki- Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Namun demikian, di samping meyakini bahwa kehendak Allah mutlak dalam memberi hidayah atau menyesatkan seseorang, kita tidak boleh melupakan bahwa Allah SWT juga bersifat Maha Adil. Maka tidak mungkin Allah SWT menyesatkan orang yang berhak mendapatkan hidayah, sebagaimana tidak mungkin pula memberi hidayah kepada orang yang berhak mendapat kesesatan. Tetapi siapakah yang mereka yang dikendaki oleh Allah mendapatkan kesesatan, dan siapa pula mereka yang dikendaki-Nya untuk mendapatkan hidayah?

Orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan hidayah adalah mereka yang membuka hatinya kepada hidayah, yang membuka akalnya kepada kebenaran, yang mencari dan menerima manhaj Allah dengan ikhlas dan jujur, dan tunduk kepada agama-Nya dengan penuh ketaatan dan penyerahan. Mereka inilah yang akan ditolong oleh Allah untuk mendapatkan hidayah, diantarkan kepadanya, didorong melakukan dan ditambah keimanan dan petunjuk mereka di dalam kehidupan ini. Tentang mereka ini Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS Muhammad :17)

Allah berfirman :

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi : 13)

Adapun orang-orang yang akan dikehendaki Allah SWT untuk mendapatkan kesesatan, adalah mereka yang lari dari kebenaran, berpaling dari petunjuk dan menutup semua pintu yang ada dalam dirinya sehingga hidayah tidak bisa masuk. Bahkan di dalam diri mereka sama sekali tidak ada kesediaan untuk menerima manhaj yang diturunkan Allah SWT. Mereka tuli, bisu dan buta. Dengan demikian mereka tidak lagi dapat berpikir. Kalau mereka mengingkari Allah dan menolak agama-Nya, maka bagaimana Ia akan memberi hidayah kepada mereka, sedang Allah SWT berfirman :

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah : 264)

Begitu juga dengan orang-orang fasik yang tidak mau mentaati Allah, serta orang-orang zalim yang zalim kepada Allah, hamba-Nya dan dirinya sendiri, Allah tidak akan memberikan hidayah kepada mereka :

“Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah : 108)

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah : 258)

Ada beberapa alasan kenapa Allah SWT memberikan azab kelak di Akherat kepada orang-orang yang menolak hidayah Allah SWT :

1. Mereka dibekali dengan fithrah suci yang berpotensi menerima hidayah dari Allah SWT . Rasulullah SAW bersabda :

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan keadaan fithrah, maka ibu bapaknyalah (yang akan berperan) mengubah anak itu menjadi seorang Yahudi, atau Nsrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

2. Mereka diberi alat indera untuk mencari kebenaran. Allah akan meminta pertanggungjawaban penggunaan alat indera tersebut :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra`:36)

3. Mereka diberi akal untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang hak dan batil, antara hidayah dan dhalal. Allah berfirman tentang penghuni neraka yang menyesal karena di dunia dulu tidak menggunakan akal pikirannya sehingga akhirnya mereka masuk neraka :

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk : 10)

4. Mereka diberi hak ikhtiar untuk menerima atau menolak hidayah Allah SWT. Allah berfirman :

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (QS. Al Kahfi : 29)

5. Kepada mereka sudah diutus Rasul, diturunkan Kitab Suci, disampaikan dakwah Islam untuk membimbing mereka mencari hidayah Allah SWT. Allah berfirman :

“Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (QS Al Isra’:15)

6. Mereka hanya dibebani hal-hal yang sanggup mereka memikulnya. Allah berfirman

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah : 286)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS : Al Baqarah : 185)

Dengan alasan-alasan seperti di atas, sangatlah bijaksana dan adil kalau Allah SWT memberikan azab kepada orang-orang yang menolak hidayah Allah SWT sebagai balasan yang sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan di dunia.

(tentang hidayah Allah SWT baca Jawaban Tuntas Masalah Taqdir, Dr. Abdullah Nashih `Ulwan, 1982, hal 16-31, 56-63)

Afwan karena keterbatasan pemahaman saya dan referensi saya disini, bagi akhwatifillah yang ingin tahu lebih jauh ttg hidayah bisa baca buku tersebut ya.

Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, waallahua`lam bishowab.

*******************************************

 

  • DISKUSI

thyka_a3: bisakah qta mendoakan seseorang untuk mendapatkan hidayah?

qq_ameliaa: hidayah itu petunjuk… petunjuk sudah ada yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah dan hanya org2 yg dibukakan pintu hatinya yg mau menerima kitabullan dan sunnah Rasulullah semoga kita termasuk didalamnya

ayangata: tentu saja bisa mba thyka

tetapi tentu saja orang yang kita doakan tersebut juga harus berikhtiar agar bisa menuju hidayah-Nya dan membuka hatinya untuk menerima hidayah-Nya.

Artinya:”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ” (Ar Ra’d: 11)

Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo’akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya mendapat hidayah tersebut.

Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam. Suatu hari, dia amat membutuhkan makanan, Padahal ketika itu, ia dalam kondisi sangat lemah, seperti yang biasa tejadi pada wanita yang hendak melahirkan. Lalu Allah memerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekali pun tidak akan mampu melakukannya. Maryam diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit digoyang-goyangkan. Allah berfirman:

Artinya: “Dan goyanglah pangkal pohon korma itu ke arahmu …. (Maryam: 25)

Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma, sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara meletakkan tangannya di pohon korma. Dengan demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan sunnatullah dalam hal perubahan. Maka hasilnya adalah:

Artinya: “Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu “. (Maryam: 25)

Karena itu akhwatifillah, kita mesti berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu ialah berdo’a agar mendapat hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis-majelis dzikir dan ceramah agama, mendengarkan kaset pengajian agama, membaca buku-buku tentang keimanan dan sebagainya.

Di sisi yang lain kita juga mesti meninggallkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan tayangan-tayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, berpergian tanpa disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda (pacaran), dan hal-hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

InsyaAllah demikian ya mba thyka.

Kemudian hidayah harus selalu dijaga dan dimantapkan karena tidak ada jaminan bila seseorang telah mendapatkan hidayah maka hidayah dimaksud akan eksis selamanya. Disinilah agaknya letak fungsi dan peran ibadah yang merupakan terapi dan kontrol untuk mengeksiskan suatu hidayah.

ipeh_alena: baca2 majalah yang tidak mendidik — > kalo majalah khusus ibu atau majalah masak termasuk ga?

ayangata: Ada ngga manfaat dari membaca majalah khusus ibu atau majalah masak mba ipeh?

ipeh_alena: kalo masak mungkin buat yang ingin belajar masak, kalo majalah ibu2 gitu kan banyk misalnya resensi cara menjahit,atau resensi cara membuat anak tidak susah makan, gitu mba

ayangata: Sebagai seorang muslimah tentu saja kita juga perlu membekali diri dengan pengetahuan2 umum atau pengetahuan yang berkaitan dg kerumahtanggaan dsb, berarti insyaAllah ada manfaat yang kita dapatkan dari membaca majalah tsb.

ayangata: Pengertian Hidayah

Kata hidayah berasal dari akar kata hadaya yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan petunjuk. Secara etimologi hidayah diartikan dengan rambu-rambu yang menyampaikan seseorang kepada yang dicari atau diartikan juga dengan kecerdasan dan penjelasan yang lawan katanya adalah kesesatan, demikian ditegaskan oleh Luwis Ma’luf dalam Kamus Al-Munjid.

ayangata: Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa hidayah adalah tuntunan Tuhan kepada setiap makhluk agar dapat memiliki sesuatu atau tuntunan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dialah yang memberi hidayah kepada anak ayam memakan benih ketika baru saja menetas, atau lebah untuk membuat sarangnya dalam bentuk segi enam karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya.

ipeh_alena: Apakah hidayah sama dengan halnya seperti cerita2 orang dimana awalnya mereka adalah para ahli maksiat kemudian karena suatu hal atau suatu keadaan akhirnya mereka hijrah?

ayangata: 2. Idkhalul iman ilal qalb (memasukkan iman ke dalam hati, atau menjadikan seseorang beriman). Misalnya firam Allah dalam QS Al Qashash : 56 :

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

ayangata: Uraian di atas (2) untuk pertanyaan mba ipeh ya.

Apa yang disampaikan mba ipeh adalah termasuh dalam kategori hidayah no 2, yang mutlak hak Allah untuk diberikan kepada siapa saja, misalkan kepada ahli maksiat kemudian ia bertaubat.

InsyaAllah demikian yang bisa saya sampaikan.

 

 


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: