Oleh: kajianmuslimah | 19 Januari 2008

40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga

Kajian Muslimah

Hari, tanggal : Senin, 7 Januari 2007

Materi : 40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga

Pemateri : Mba Shinta

 

 

Shinta Agustian,

Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon pertolongan, serta ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu-nafsu kita dan dari kejahatan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tak seorangpun yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Shinta Agustian: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” (An-Nahl : 80).

 

Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang. Ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga. Allah berfirman :

 

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (Al-Ahzab :33)

 

Jika kita renungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah.

 

Ketika Allah menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah mengambil dari mereka nikmat rumah ini, Allah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Allah berfirman : “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali.”(Al-Hasyr:2).

 

Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan ISHLAH (Perbaikan) Rumahnya.

1.Menjaga diri dan keluarga dari api Neraka jahannam dan selamat dari siksa yang menyala-nyala. Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-Tahrim : 6).

 

2 Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah pada hari perhitungan. Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya”.Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Isyratun Nisaa’, hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami’ , no.1775; As-Silsilah Ash- Shahihah no.1636.

 

3.Rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan, bahaya dan fitnah. Rasulullah saw bersabda :

“Beruntunglah orang yang menguasai lisannya dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya.” Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahihul Jami’, no.3824.

“Keselamatan seseorang dalam fitnah yaitu ia senantiasa mendiami rumahnya.” Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnadul Firdaus dari Abu Musa; terdapat dalam Shahihul jami’ no.3543, dan lafazh dalam Sunan oleh Ibnu Abi ‘Ashim, no.1021. Dalam takhrij ia mengatakan : “Hadits ini shahih “.

4 Sesungguhnya sebagian besar manusia menggunakan waktunya di dalam rumah.

 

5.Ini yang terpenting, rumah merupakan sarana yang paling besar untuk membangun masyarakat muslim.

 

 

APA SARANA-SARANA UNTUK MEMPERBAIKI RUMAH?

Nasehat (1): Memilih Istri yang Tepat


Allah berfirman:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

 

Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai berikut:

 

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana)”. Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 9/132.

 

“Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah”. Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa’i dari Ibnu Amr, Shahihul Jami’, hadits no.3407

 

“Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat”. Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami’, hadits no. 5231

 

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia”. Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dari Abu Umamah. Lihat Shahihul Jami’, hadits no. 4285

 

 

“Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat.” Hadits riwayat Imam Ahmad (3/245), dari Anas. Dikatakan dalam Irwa ‘ul Ghalil, “Hadits ini shahih”, 6/195

 

“(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana’ah)”. Hadits riwayat lbnu Majah, No. 1861 dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623

 

 

Dalam riwayat lain disebutkan : “Lebih sedikit tipu dayanya”.

Sebagaimana wanita shalihah adalah salah satu dari empat sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak shalihah adalah salah satu dari empat penyebab sengsara. Seperti tersebut dalam hadits shahih:

 

“Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu” Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282

 

Laki-laki shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan keluar tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali dengan susah payah.

 

Nasehat (2): Upaya Membentuk (Memperbaiki) Isteri.

Apabila isteri adalah wanita shalihah maka inilah kenikmatan serta anugerah besar dari Allah Ta’ala. Jika tidak demikian, maka kewajiban kepala rumah tangga adalah mengupayakan perbaikan.

Hal itu bisa terjadi karena beberapa keadaan. Misalnya, sejak semula ia memang menikah dengan wanita yang sama sekali tidak memiliki agama, karena laki-laki tersebut dulunya, memang tidak memperdulikan persoalan agama. Atau ia menikahi wanita tersebut dengan harapan kelak ia bisa memperbaikinya, atau karena tekanan keluarganya. Dalam keadaan seperti ini ia harus benar-benar berusaha sepenuhnya sehingga bisa melakukan perbaikan.

 

Beberapa Metode Memperbaiki Isteri:

1. Memperhatikan dan meluruskan berbagai macam ibadahnya kepada Allah Ta’ala.

2. Upaya meningkatkan keimanannya, misalnya:

a. Menganjurkannya bangun malam untuk shalat tahajjud

b. Membaca Al Qur’anul Karim.

c. Menghafalkan dzikir dan do’a pada waktu dan kesempatan tertentu.

d Menganjurkannya melakukan banyak sedekah.

e. Membaca buku-buku Islami yang bermanfaat.

f. Mendengar rekaman kaset yang bermanfaat,

g. Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk tujuan yang baik.

h. Menjauhkannya dari segala keburukan dan pintu-pintunya.

 

Nasehat (3): Jadikanlah Rumah sebagai Tempat Dzikrullah (Mengingat Allah).

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati”. Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi

 

Nasehat (4): Jadikan Rumahmu sebagai Kiblat.

Maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat beribadah. Allah berfirman:

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (Yunus: 87).

 

Nasehat (5): Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga.

Dari Aisyah radhiallahu anha ia berkata:

Suatu ketika Rasullah Shallallahu alaihi wasalam, mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan: “Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah!”. “Allah mengasihi laki-laki yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya sehingga shalat, jika tidak mau ia memerciki wajahnya dengan air”. Hadits riwayat Muslim, Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, 6/23.

 

Membiasakan dan menganjurkan para isteri dengan sedekah adalah sesuatu yang bisa menambah iman, ia adalah perkara agung yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan sabdanya:

“Wahai segenap wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku melihat bahwa kalian adalah sebanyak-banyak penduduk Neraka”. Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud; Shahihul jami’ , hadits no.3488

*****

 

 

Diskusi

 

ica: Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk tujuan yang baik.

ica: itu tadi tugas suami ya ?

Shinta: iya

ica: kalo tugas istri sebaliknya ada ga ? memilihkan teman untuk suami kita

mia: teh kayaknya materi ini harus juga dibaca sama para suami juga ya

Shinta: kayaknay itu lebih ke pengontrolan dari seorang suami utk menjadikan istrinya shalihah, tdk terpengaruh dan tergodaoleh pengaruh2 buruk

Shinta: iya ka, ada juga di materi selanjutnya

Shinta: tugas istri juga untuk mengontrol dan mengingatkan suami apabila kliatannya ada teman suami yg berpengaruh buruk

Shinta: iya ya mbak mia, minimal kita bisa menyampaikan ke suami, dan kalau teteh buat evaluasi sendiri

Shinta: gmn mbak ika? (hihi afwan kadanag pake mabk kadanag ngga niih…..punten yaa.., udah nerasa deket soalnya )

ica: nuhun pisan teh shinta

ica: jazakillah , berarti setidaknya kita ada kewajiban untuk bertanya (secara ihsan ) pd suami td pergi ama siapa dan ngapain aja ya

Shinta: oiya ada yg ingin saya tanyakan atau diskusikan

Treesy: mudah2an kita semua di room ini menjadi wanita shalihah ya amin…

ica: amin

mia: amiin

Shinta: aamiin…hehe, yang saya tangkap mah ka, insAllah kalau udah teman dekat mungkin sesekali akan datang ke rumah

Shinta: nah disitulah kita bisa melihat teman suami itu

Shinta: jgn setiap pergi ditanyakan yaa….

Shinta: khawatirnya nanti jadi jatuh ke ngga percaya ke suami, nah lho…

ica: iya heheh

ica: insya Allah kita sendiri yg bisa nilai ya teh kapan kita harus bertanya

nora: syukur2 kita diajak main kerumah temen suami

Shinta: iya bettulllll

Shinta: bettul juga nor

Shinta: jadi inget,

Shinta: salah satu ajang taaruf dulu, kahn kita dianjurkan untuk mengethaui/mengenal teman dekat suami ya, utk mencari data (calon) suami kita

Shinta: dan sy pernah dpt dr buku juga, itu salah satu parameter “kebaikan” (calon) suami kita

Shinta: hehe, iak ingat masa lalu yaa…alhamdulillaah Allah menunjukkan yg baik yaa…

ica: insya Allah klo kita tahu temannya siapa , ya itulah suami kita mungkin gitu ya

Shinta: oiya sebelum pamit (sementara) ada yg ingin saya jadikan bahan dsikusi

Shinta: iya lbh kurang begitu

ica: gimana teh diskusinya

Shinta: selama ini diantara perkumpulan ikhwan (organisasi atau apa saja), kita khan selalu berharap

Shinta: kalau ikhwan itu mencari istri yang baik, yang udah keliatan shalihah minimal sepengathuan kita

Shinta: nah pada kenyataannya, tidak semua ikhwan ternyata memilih/memutuskan istri yang sdh keliatan shalihah

Shinta: ada beberapa yang memutuskan menikah dengan akhwat yang biasa saja (bahkan kadanag yang belum memakai hijab/kerudung)

Shinta: (saya memohon dari kesalahan atas prediksi akhwat shalihah ya, akrena pd dasarnay kita tdk berhak memutuskan seseorang itu sudah shalih/ah atau belum…ini mah sekedar pengingat/parameter di antaa kita aja ya…..silahkan kalau ada yg mau protes )

Shinta: bagaimana pendapat akhwat sekalian dengan kondisi di atas, ikhwan yang memutuskan memilih/menikah dengan akhwat yang bukan dari “golongannya”, sementara banayk sebetulnya akhwat yg sudah “mapan” dan berumur

Shinta: afwan kalau kurang berkenan pertanyaannya….

Mba Juariah : loh kok jadi mb shinta yg tanya ?

Mba Juariah : hihihihi

Shinta: iya nih mabk Ju, abis ga ada yg nanya

Shinta: sok atuh ada yg bsia diambil ngga hikmah dr kejadian di atas?

Mba Juariah : afwan sy lg baca2 diatas subhanallah mb materinya buagus sekali

Mba Juariah : tmakasih yah

Shinta: utk pembelajaran kedewasaan kita juga yaa…krn biasanya (saya juga dulu) lgsg protes dan marah2. hihi….

Shinta: alhamdulillaah….

Shinta: Mbak Ju, titip aja sekalian ya roomnya, hehe

Shinta: saya mau jemput anak2, afwan…udah kesorean

muza : afwan , menurut pendapat muza mungkin saja ikhwan tersebut mencari akhwat yang biasa-biasa saja untuk membentuk akhwat tersebut supaya bisa sholehah.

Shinta: silahkan akhwat fillah, Mbak Ju isnyaAllah sdh berkecimpung lama jg di dunia organisasi, hehe…..

Shinta: iya Mbak Yuza, biasanya alasannya itu ya krn dakwah, bisa diterima?

ica: klo saya sih dulu sempet marah,mingkel n jengkel tp setelah tanya pendapat seorang ikhwan akhirnya ngerti jg

Shinta: pendapatnya apa ka? pengen tahu juga nmih

ica: ktnya sih namanya ikhwan itu beda2 , ada yg mau terima enaknya (udah sholeh jd tinggal nerusin kesolehannnya )

ica: ada jg yang dia itu jiwanya penuh “gairah”

Shinta: ada2 aja bahasanay ikhwan

ica: gairah dalam arti

ica: bahwa dengan menikahi akhwat yg biasa2 aja menjadi pemacu gelora jiwa dan kesolehan nya

Mba Juariah : ghiroh maksut’e

ica: untuk terus memacu diri dan mendokrak istri

ica: gairah yang menanjak untuk terus berdakwah

ica: krn klo dengan yg sudah sholehbisa2 ikut datar ga ada naik nya datte

Mba Juariah : ahh mengada2 itu

Mba Juariah : ada2 ajah alasannya

*******

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: